MENGAPA HAJI DIWAJIBKAN SEKALI SEUMUR HIDUP?

mecca-kaaba-satellite-photo-high-resolution-288786

Kapan lagi?…

Perjalanan untuk lebih dekat kepada Allah telah dimulai. Allah sendiri yang telah memulainya, karena kecintaan dan kedekatan-Nya kepada anda. Oleh sebab itu, Dia memerintahkan Nabi-Nya, Ibrahim as. untuk menyerukannya kepada anda sekalian: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,” (Al-Hajj: 27).

Ibrahim bertanya, “Wahai Rabbku, bagaimana saya menyerukannya, sementara suaraku tidak bisa sampai kepada mereka?”, Allah menjawab, “Serukanlah, dan Kamilah yang akan menyampaikannya!”. Maka, Ibrahim pun mendaki ke atas gunung Abu Qubais seraya berseru, “Wahai segenap manusia, sesungguhnya Rabb kalian telah menjadikan sebuah rumah (Baitullah), karena itu kunjungilah (untuk mengerjakan haji)!”(Tafsir Ath-Thabari: IX/134, Tafsir Ibnu Katsir: III/290).

Allah pun menyampaikan seruan Ibrahim as. tersebut kepada siapa saja yang ada di muka bumi. Sehingga disambutlah seruan itu oleh bangsa manusia dan jin. Bahkan mereka menyambut seruan itu semenjak masih berada dalam rahim para ibu dan tulang sulbi para bapak. Sedangkan anda termasuk dari mereka.

Anda telah mendengar seruan itu, lalu Anda menyambutnya dan datang menuju Baitullah. Rasulullah SAW Mengatagorikan  ‘menyampaikan risalah’ sebagai misi paling mulia dan kewajiban puncak beliau. Karenanya, beliau bersabda pada saat pelaksaan Haji Wada’: “Bukankah telah aku sampaikan? Ya Allah, saksikanlah!”. (HR. Al-Bukhari: I/52). Beliau bertujuan agar setiap jamaah haji mau memperhatikan masalah ini dan merasa memiliki tanggungjawab untuk menyampaikan risalah Islam sampai hari kiamat. Selanjutnya, orang-orang sesudah mereka juga mendapatkan beban tugas yang sama untuk menyampaikan kembali risalah itu kepada orang-orang setelah mereka, hingga menembus dimensi ruang dan waktu. Orang yang hadir bertanggungjawab menyampaikannya kepada yang tidak hadir. Sebab, betapa banyak orang yang sekedar menyampaikan justru lebih memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung. (Potongan dari HR. Al-Bukhari: I/36). Berapa banyak orang yang mengajarkan ilmu kepada orang yang lebih paham darinya. (Potongan HR. Abu Dawud: II/346).

Penyampaian risalah ini terus berulang-ulang setiap tahun. Ia tak hanya menghabiskan beberapa hari di musim haji saja. Namun, hal ini berlangsung terus selama seperempat tahun. Karena musim haji adalah tiga bulan dalam setahun dan merupakan beberapa bulan yang ditentukan, yaitu bulan Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.

Tidak pernahkah suatu hari anda lontarkan pertanyaan berikut, “Mengapa Allah mewajibkan ibadah haji hanya sekali seumur hidup (tidak seperti kewajiban shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya)?. Seakan-akan maksudnya adalah agar anda belajar bagaimana merangsang tekad dan menghimpun kekuatan. Sebab, adakalanya suatu kesempatan itu tak terulang lagi. Sedangkan percobaan itu adakalanya menjadi yang pertama dan bahkan yang terakhir. Bisa jadi inilah rahasia mengapa Islam menjadikan istitha’ah (kesanggupan) sebagai syarat menunaikan ibadah haji. Agar pelakunya dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya. Karena ia adalah kewajiban yang hanya sekali seumur hidup. Maka perhatikanlah beberapa tujuan utama dari perjalanan ini. Pegang teguhlah dan jangan sampai anda kehilangan manfaat tersebut.

Pertama: Jadikan ibadah haji anda sebagai suatu kenikmatan ruhani yang luar biasa. Dengan jalan memahami rahasia, petunjuk, serta menyelami kedalaman hikmahnya. Sehingga terbukalah bagi anda sebuah gambaran perjalanan panjang penuh berkah yang sarat manfaat, kebaikan dan makna yang tidak pernah anda rasakan sebelumnya.

Kedua: Jangan sampai ibadah haji anda berubah menjadi suatu aktifitas tak bermakna, atau sekedar ritual yang sama sekali tidak membuahkan hasil bagi diri anda. Sebab, kita sedang hidup di tengah zaman di mana mayoritas ibadah telah berubah menjadi sebuah rutinitas harian. Sehingga, yang mengerjakannya sama sekali tidak merasakan perbedaan antara mengerjakan ibadah atau tidak. Bahkan, sebagian lainnya menganggap ibadah sebagai sebuah beban berat yang ingin segera mereka singkirkan dari pundaknya.

Ketiga: Hendaknya kalian membuat ibadah haji yang berat itu terasa ringan. Pandanglah ia sebagai sesuatu yang paling indah dan nikmat bagi hati anda. Manisnya mampu mengalahkan beban beratnya, kenikmatannya mampu mengalahkan kesulitannya.

Keempat: Luruskan niat anda untuk memperbesar pahala dan balasan-Nya. Alangkah banyak orang yang sama-sama menunaikan ibadah haji, namun jarak mereka dan pahala lebih jauh dari jarak langit  dan bumi. Sebab, pahala bagi ibadah hati itu tak ada batasannya. Setiap orang yang mengerjakan ibadah haji sama-sama merasakan kelelahan. Akan tetapi pahala mereka berbeda-beda, demikian juga derajat mereka bertingkat-tingkat sesuai isi hatinya.Ibnul Qayyim berkata, “Keutamaan sebuah amalan itu tergantung apa yang ada dalam hati, seperti keimanan, keikhlasan, kecintaan, dan segala sesuatu yang menjadi konsekuensinya.” (Al-Wabil Ash-Shayyib: I/15).

Kelima: Agungkanlah syiar-syiar Allah dan tambahkan kemuliaan-Nya dalam hati anda. Agar di akhir perjalanan yang penuh berkah itu, anda dapat memetik buah takwa yang manis lagi nikmat, seperti dalam firman-Nya: “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”(Al-Hajj: 32).

Keenam: Manfaatkanlah kesempatan agung yang tersaji dengan ziarah ke tempat suci. Sehingga bangkitlah perasaan anda yang telah dipadamkan angin materialisme yang sangat dingin lagi amat kencang. Anda pun akan terhindar dari menghamba dunia dan terbebas dari jerat-jeratnya yang kuat.

Namun, jika anda tidak mengerjakan hal itu, maka penyakit akan semakin kuat hingga melemahkan kekuatan batin anda. Anda pun sangat butuh membaca risalah seperti yang penulis sampaikan ini dengan harapan, semoga Allah berkenan melapangkan dada dan membangkitkan hati anda yang telah terkubur.

Ibadah haji adalah transaksi dalam beberapa hari saja, namun keuntungannya akan dipetik bertahun-tahun. Bagaimana mungkin seorang yang berakal sehat tidak mau memanfaatkan kesempatan tersebut? Tidak masuk akal jika ada seorang pedagang yang zuhud, tidak tertarik meraup keuntungan di dalamnya.

Ketujuh: Selamilah dalam-dalam layaknya usaha seorang hamba yang fakir dalam menelusuri hikmah Ilahiyah yang lahir dari sebuah ibadah Rabbaniyah ini. Semakin anda merenungkan dengan teliti, maka semakin banyak pelajaran yang didapat.

Memang benar, bahwa inti ibadah adalah melaksanakannya tanpa mempertimbangkan makna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan tujuannya adalah penghambaan yang sempurna dan ketundukan hanya kepada Allah semata. Seorang budak tidak pantas bertanya kepada tuannya tentang rahasia di balik semua kewajibannya. Namun, hal ini sama sekali tidak menghalangi untuk mengetahui hikmahnya. Bukan pula larangan untuk mencari hikmah yang terkandung di dalamnya. Apalagi jika Zat yang telah mewajibkannya kepada kita telah menetapkan beberapa hikmahnya, diantaranya firman Allah SWT :  “… Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar…” (Al-Ankabut: 45).

 

Wallahu A’lam Bishshawab

 

Diterbitkan Oleh:

Biro Haji & Umrah Ponpes Ta’mirul Islam

“AL-MABRUR” Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s